MENU UTAMA
Home
BERITA SUAKA
LINK
KONTAK KAMI
MENCARI
TANYA-JAWAB
PROMOSI
 
 
DIKLAT AKTING
 Active  Image
PENGUNJUNG
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterAll10766
 
 
 
INDEKS
 
 
 
MEIHWA KEMBANG GLODOK PDF Print E-mail

    

Active Image

   Meihwa Putri Tan, gadis Tionghoa yang manis berusia 23 tahun, mahasiswi smester akhir Univ.Tarumanegara, adalah kembang Glodok(Jakarta) yang menjadi idaman banyak pemuda, baik di kawasan Glodok maupun  di lingkungan kampus. Denny Ah Liang, kakak kelasnya di kampus yang kini telah menjadi pengusaha muda adalah pemuda yang beruntung mendapatkan cinta Kasih Meihwa dan sudah disetujui pula oleh kedua keluarga. Tanggal pesta pernikahan hanya menunggu waktu, saat usai Meihwa  diwisuda. Sebuah pesta besar pun sudah direncanakan, undangan pun telah dibagikan.

Meihwa, anak pertama dari tiga bersaudara, adalah putri Tan Swie Ning (seorang konglomerat Tionghoa kenamaan) dan Ny. Marie Tan, seorang dosen mata kuliah Ekonomi di UI. Hidup keluarga ini penuh kecukupan dari segi materi dan cukup ternama karena terkenal sebagai public figure, sangat dekat dengan warga Tionghoai dan dermawan yang disukai     banyak orang, termasuk kalangan non Tionghoa.

Manusia hanya boleh berencana, Tuhan jualah yang berhak memutuskan. Segala impian suka-cita Meihwa, akhirnya berubah menjadi tragedi yang memilukan. Meletusnya kerusuhan 11-13 Mei 1998, meluluhlantakkan keluarga ini, seperti banyak dialami oelh keluarga Tionghoa lainnya. Pusat bisnis milik papanya dibakar massa, utangnya jadi menumpuk dan adiknya terbunuh. Yang membuat Meihwa lebih nelangsa, adalah dirinya diperkosa oleh segerombolan pemuda yang memfaatkan “amok massa” sebagai momentum melampiaskan kesenenangan kelompok. Walaupun Haji Muji, tokoh Betawi yang sayang pada Meihwa, berusaha menyelamatkannya dari kebrutalan preman, namun usaha itu sia-sia belaka.

Akibat perkosaan, Meihwa hamil karena menolak menggugurkan kandungannya. Sanak famili dan banyak sekali keluarga Tionghoa yang hengkang ke luar negeri. Tidak demikian dengan keluarga Tan. Mereka lahir, besar, cari makan dan sangat lah mencintai Indonesia . Negara ini telah mereka diami sejak zaman nenek moyang mereka dan mereka rasakan sebagai tanah air mereka sendiri. Walaupun dihujat, dicemo’oh dan dibujuk oleh keluarga Tionghoa lain, agar keluarga Tan buru-buru meninggalkan Indonesia , keluarga TanIndonesia, Tan Swie Ning mulai lagi berbisnisnya di bidang property dan retail. bergeming. Dari sisa depositonya yang tidak banyak di bank dan bantuan warga Tionghoa lainnya yang juga tidak lari dari

Peristiwa perkosaan yang menyebabkan kehamilan, cepat tersebar ke mana-mana. Yang amat menyedihkan bagi Meihwa, kecuali mama dan papanya,  tiada orang yang mau perduli akan nasibnya, terutama dari Ah Liang yang justru mencampakkan dirinya begitu saja. Seluruh rencana pesta pernikahan, tinggal kenangan. Papanya dan banyak orang Tionghoa yang menyuruh Meihwa  menggugurkan kandungannya, tetapi ia menolak. Air matanya meleleh ketika menerima undangan dari Ah Liang yang akan melangsungkan pernikahannya di Singapura dengan Jia Ling, teman karib yang juga kuliah di Jurusan yang sama.

Sebagai manusia biasa, Meihwa  pun sempat putus asa dan sempat tergoda untuk melakukan bunuh diri, persis ketika warga TIONGHOA merayakan Imlek dan pesta Barongsai. Tapi untunglah kejadian itu tak sampai merenggut nyawanya sendiri, karena diselamatkan oleh seorang Bhiksu dari sebuah Vihara, tempat Mai Hwa sering melakukan sembahyang. Petuah-petuah bhiksu dan spirit yang diberikan mama, menyadarkan kekhilafannya bahkan menumbuhkan kembali kekuatan dan rasa cinta dalam dirinya. Dendam nya berubah menjadi rasa Kasih sayang yang mendalam, baik kepada sesama Tionghoa maupun kepada pribumi. Ketika bayi yang hampir ia gugurkan lahir, terbesitlah kebahagiaan baru dalam diri Meihwa. Ia sangat mencintai bayi lelaki yang ia beri nama Tulus itu.

Meihwa dengan bayi haram mata masyarakat itu, selalu menjadi cemo’oh dan tiada keluarga Tionghoa yang mau membantunya. Walaupun pernah hidup kaya raya, bukan halangan bagi Meihwa  membesarkan anaknya dengan berdagang kecil-kecilan, mengikuti jejak papanya untuk berupaya kembali bangkit. Di sela-sela kesibukannya mencari nafkah, Meihwa  masih menyempatkan diri sebagai guru sekolah terbuka bagi anak-anak non Tionghoa yang berstatus gelandangan.

Ketika Tulus mulai pintar bicara dan terus menanyakan papanya. Meihwa  menjadi terusik untuk mencari lelaki yang memperkosanya dulu. Meihwa  ingin bertemu dengan orang yang pernah membuat aib dirinya, bukan untuk meminta pertanggung jawaban apalagi ingin mengadilinya. Ia hanya ingin berkenalan dan memperkenalkan anaknya kepada ayahnya, hanya ingin agar Tulus bahagia.

Secara kebetulan, ketika membuka sebuah Koran, alangkah kagetnya Meihwa  melihat sebuah foto pengusaha muda yang terpampang di situ. Lelaki yang bernama Eddy Arman itu tak lain adalah lelaki yang pernah memperkosanya. Bukan itu saja, Eddy  bergerak di bidang property itu, tengah bermasalah dengan Yayasan tempat Meihwa  bekerja, soal penggusuran sekolah yang didirikannya untuk kaum dhuafa. Perusahaan Eddy  mau menggusur lahannya untuk dijadikan sebuah supermarket.

Ketika Meihwa  mendatangi kantor Eddy, ia ternyata mendapat perlakuan tidak manusiawi. Eddy  marah besar kepada Meihwa  karena berani meminta Eddy  mengakui Tulus sebagai anaknya. Bukan itu saja, Meihwa  diusir secara kasar dan diancam dibunuh kalau berbuat macam-macam pada dirinya. Bagi Eddy, Meihwa  hanya mengada-ada, memfitnah hanya karena dorongan keinginan supaya bangunan sekolahnya tidak digusur. Walaupun, di hati kecilnya ia mengakui, apa yang disampaikan Meihwa  benar adanya. Sewaktu perkosaan terjadi, hanya Eddy  pribadilah yang sempat menodai Meihwa , sementara teman-temannya hanya ikut membantu dan sekedar menggerayangi.

Dalam keadaan terluka, Meihwa berkenalan dengan Lao Mingdira,SH, seorang Aktivis sebuah LSM yang intrest kepada perjuangan Meihwa. Lao Ming yang juga pengurus organisasi Tionghoa, mendorong Meihwa  untuk terus memperjuangkan haknya, termasuk usaha mendesak Eddy  untuk mengakui Tulus. Perkaranya menjadi besar, ketika kisah itu dilangsir media pers dan sampai ke meja hijau. Beberapa pengacara menyatakan siap mendukung Meihwa  sebagai pembela melawan Eddy  Arman.

Eddy  juga tidak mau kalah gertak. Ia pun menyiapkan beberapa pengacara handal demi menjaga nama baiknya dan tidak perduli berapa pun biaya yang ke luar. Eddy  juga mencoba menyogok Brigda Barnas, oknum polisi yang lemah iman, agar test DNA darahnya dan darah Tulus tidak dilakukan. Untunglah  AKP Tando yang tidak ingin ada oknum yang mencemarkan nama baik Polisi, bertindak cepat membasmi bawahannya yang nakal. Usaha Eddy untuk meneror Meihwa melalui Sojak, kaki tangan Eddy juga tidak berhasil karena Meihwa  cukup cerdas dan kokoh.

Ketika gejala-gejala kekalahan Eddy  semakin besar, Meihwa  menunjukan jiwa besarnya. Ia mencoba mendatangi dan meyakinkan Eddy  agar mau mengakui Tulus sebagai anaknya dan membiarkan gedung sekolahnya tetap berjalan. Meihwa  tidak ingin menuntut uang atau minta dikawini. Bagi dia surat pengakuan dan mau minta maaf saja, lebih dari cukup.

Eddy  menjadi terenyuh, apalagi ia semakin sering dibayangi kesalahannya, ketika melakukan perkosaan pada Meihwa , di sebuah pojok bangunan tua. Rasa benci pada Meihwa  berbalik perlahan tapi pasti menjadi rasa sayang dan simpati. Eddy  mulai sering ke rumah Meihwa , mengajak Tulus bermain atau jalan-jalan. Namun bagi Meihwa , mustahil menerima Eddy , karena luka lama telah membuat trauma dan karena hatinya sudah tertambat pada Lao Ming yang juga sangat mencintainya. Tulus juga sayang dan sudah terlanjur menganggap Lao Ming sebagai papanya.

Eddy adalah profil lelaki pantang menyerah. Ia pun menggunakan berbagai cara agar Meihwa  mau memaafkannya dan mau menerima dia menjadi suami yang sah. Sebaliknya bagi Mai Hwa tidaklah sulit untuk memaafkan Eddy, tetapi bukanlah berarti harus rela pula untuk dinikahi. Keyakinannya agar etnis Tionhoa harus bisa berasimilasi dan beradaptasi dengan pribumi, tidaklah berarti harus nikah dengan pribumi. Di samping itu, perlakuan keluarga Eddy  juga sangat menyayat persaan Meihwa. Dia  dituding sebagai pelacur TIONGHOA yang tak ada harganya dan Tulus sebagai anak haram tidak pantas untuk menginjak rumah keluarga Eddy.

Sementara itu, Ny.Sarah yang memilki seorang putri bernama Nindya, juga punya skenario sendiri untuk menjodohkan Eddy Arman dengan putrinya. Dan Freddy Wong, pengusaha kaya teman papanya, ingin menangguk di air keruh dan berniat mengawini Meihwa, tidak  perduli dengan kondisi Meihwa yang sedang hamil.

Persoalan pelik kembali terjadi, ketika Ah Liang kembali dari Singapura dalam keadaan sudah bercerai dengan isteri yang telah serong dengan seorang pengusaha Singapura. Masa-masa keindahan atau nostalgia kembali berkecambah di dada Ah Liang terhadap Meihwa  yang dulu ia khianati. Upaya pendekatan kembali itu memang sempat menggetarkan hati Meihwa yang sebenarnya amat sukar melupakan cinta pertamanya. Tetapi rasa sakit akan perlakuan Ah Liang juga tidak bisa disirnakan begitu saja. Sementara itu, Meihwa  juga tidak memiliki ketegaran untuk menyingkirkan Lao Ming yang sangat mencintai dirinya dan menerima dia apa adanya.

Bagaimanakah akhir cerita ini, Siapakah akhirnya yang menjadi pilihan Meihwa ? Lao Ming, Ah Liang atau Eddy ? Tentu saja akan banyak peristiwa menarik yang harus dilalalui Meihwa  dan tentunya akan terjawab dalam film layar lebar dan dilanjutkan dengan produksi sinetron 52 episode ini.

Jakarta , 15 September 2004 .

IdeCerita/PenulisSkenario,

 


Kardy Syaid

E-mail: This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it   This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
 
< Prev   Next >
 
 
 
  Advertisement  
 
Active Image
Active Image
 
  Design by Zak Mahuna&Kardy Syaid ©right; 2009 www.aksineas.com